Tampilkan postingan dengan label Wisata Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

Karang Nini



Wana wisata ini terletak pada ketinggian antara 0 – 25 m dpl, konfigurasi lapangan umumnya bergelombang. Kawasan ini mempunyai curah hujan 3.585 mm/tahun dengan suhu udara 22 – 35 0 C.

Wana wisata ini digunakan untuk wisata harian dengan kegiatan wisata yang dapat dilakukan adalah piknik, panorama laut lepas dan pulau Nusa Kambangan, lintas alam dan memancing.

Wana wisata ini digunakan untuk wisata harian dengan kegiatan wisata yang dapat dilakukan adalah piknik, panorama laut lepas dan pulau Nusa Kambangan, lintas alam dan memancing.


Sejarah Kawasan
Konon pada zaman dahulu kala di sebuah kampung sekarang bernama Emplak tinggalah sepasang kakek nenek (aki dan nini) sakti yang bernama Ambu Kolot dan Arga Piara.

Kegemaran si Aki adalah memancing ikan laut seperti biasanya pada suatu hari si Aki pergi memancing cementara si Nini menunggu di rumah. Hari sudah merembang petang si Aki belum juga pulang. Hal itu membuat si Nenek m,enjadi gusar (gelisah) khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan menimpa diri si Aki. Ditelusurinya sepanjang pantai serta memanggil-manggil diantara suara deburan ombak. Namun malang sampai hari berganti malam si Aki tetap tidak berhasil dijumpai. Para penduduk yang membantu mencari sudah putus asa dan pulang ke rumahnya masing-masing. Tinggalah si Nini sendiri di tepi pantai.

Dengan kesaktian yang dimiliki, si Nini memohon kepada Sang Ratu Laut Kidul agar bisa dipertemukan dengan si Aki bagaimana keadaanya. Tidak berupa lama kemudian menjelmalah di hadapan si Nini sebuah batu karang dalam keadaan mengmbang, sebagai perwujudan dari jasad si Aki. Saat ini batu karang tersebut dinamakan Baleambang. Konon kabarnya kalau kita berdiri diatas batu karang tersebut terasa seolah-olah bergoyang.

Didorong oleh keinginan untuk membuktikan cinta kasih dan kesetiaannya kemudian si Nini bersemedi kembali memohopn kepada Nyi Loro Kidul agar dirinya dijelmakan seperti si Aki. Si Nini pun akhirnya menjelma menjadi batu karang menghadap laut kearah Balekambang.

Kisah kkedua insan itu samapi kini masih kokoh terabadikan melalui dua batu karang yaitu Karangnini dan Balekambang.


Fasilitas
Fasilitas yang tersedia di lokasi wana wisata ini adalah papan petunjuk, pos jaga, pondok kerja, loket karcis, tempat parkir, jalan setapak, instalasi air, tempat sampah, shelter, pagar pengaman, MCK, bangku, mushola, menara pengintai, pesanggrahan, pusat informasi dan beberapa warung/kantin.

Aksebilitas
Wana wisata ini dapat dicapai dari kecamatan Kalipucang (14 km), dan dari Kabupaten Ciamis (114 km). Kondisi jalan umumnya beraspal dan baik sehingga dapat dilalui baik kendaraanroda dua maupun empat. Sarana transportasi umum yang ada motor ojek, colt dan kendaraan carteran.

Sumber : www.tourismwestjava.com

Read More »

Carita



TWA Carita merupakan hutan dataran rendah yang lokasinya berdekatan dengan Daerah Tujuan Wisata Pantai Carita. Kawasan ini memiliki kekayaan sumber daya alam hayati yang potensial. Keanekaragaman hayati berupa flora dan fauna serta keindahan panorama alamnya merupakan daya tarik yang penting bagi pengembangan kepariwisataan di wilayah kabupaten Pandeglang.
Beberapa jenis pohon terdapat disini antara lain yaitu Jati (Tectona grandis), Mahoni (Swietenia macrophylla), Mahoni Afrika (S. khaya antoteca) dan bungur (Lagerstromia speciosa). Selain itu juga terdapat kebun percobaan balai penelitian hutan yang sedang mengembangkan stek pucuk meranti (Shorea reprosula) dan Shorea selanica.
Fauna yang terdapat di TWA Carita adalah tando (Petaurista elegans), babi hutan (Sus vitatus), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), lutung (Tachypitechus auratus), biawak (Varanus salvator) dan ular sanca (Phyton sp).
Terdapat juga sebagaian jenis burung, diantaranya yaitu alap-alap (Falco moluccensis), elang (Spilornis cheela) dan jenis burung yang lebih kecil lainnya. Sering pula dijumpai kalong.

Potensi Wisata
Berdasarkan pada potensi dan keadaan lapangan yang ada di dalam kawasan TWA Carita, maka kegiatan wisata alam yang dapat dilakukan adalah berupa:

1. Wisata alam (darat) yaitu piknik menikmati keindahan alam, lintas alam, photo hunting, berkemah dan jenis wisata lainnya.
2. Wisata tirta; yaitu diantaranya memancing dan berperahu di perairan pantai.
3. Wisata ilmiah; merupakan lokasi yang cukup ideal untuk penelitian flora dan faunanya.

Aksebilitas
Jalan untuk menuju de TWA Carita dapat ditempuh melalui empat rute yaitu :
1. Jakarta – Serang – Pandeglang – Labuan – lokasi = 160 km
2. Jakarta – Serang – Cilegon – Anyer – lokasi = 170 km
3. Jakarta – Serang – Palima – Batukuwung – lokasi = 160 km
4. Bogor – Rangkas Bitung – Pandeglang – Labuan – Lokasi = 150 km

Sumber : www.tourismwestjava.com


Read More »

Gunung Bunder



Wana Wisata Gunung Bunder seluas 8,75 ha terletak pada wilayah kerja pengelolaan hutan RPH Gunung Bunder BKPH Leuwiliang, KPH Bogor, yang secara administratif pemerintahan termasuk Desa Gunung Bunder, Kecamatan Cibungbulang KPH Bogor.

Wana wisata ini terletek pada ketinggian 830 m dpl, konpigurasi lapangan umumnya datar sampai bergelombang. Kawasan ini mempunyai curah hujan 4000 mm/tahun dngan suhu udara rata-rata 230 C. Potensi Wilayah
Wana Wisata ini terdiri dari hutan tanaman (Rasamala dan pinus) Sumber air
yang ada berupa sungai yang saat ini dimanfaatkan dengan cara mengalirkannya
melalui parit untuk keperluan MCK dan air minum.
Potensi visual menuju lokasi yang menarik adalah berupa pemandangan pegunungan dan persawahan yang menghijau sedangkan gejala alam/potensi visual lansekap di dalam kawasan yang menarik adalah berupa pemandangan pegunungan dan persawahan yang menghijau sedangkan gejala alam/potensi visual lansekap di dlam kawasan yang mempunyai daya tarik terhadap pengunjung adalah pegunungan, air terjun dan panorama malam kota Bogor.

Wana Wisata ini selain digunakan untuk wisata berkemah. Untuk kegiatan berkemah tersedia satu kompleks perkemahan dengan kapasitas tampung keseluruhan 30 unit kemah (400 orang pekemah).
Bumi Perkemahan Gunung Bunder diresmikan sekitar 1982, oleh Menteri Kehutanan. Luas lokasi sekitar 30 ha dan biasanya dipenuhi pelajar dan mahasiswa ketika tiba musim libur sekolah dan liburan akhir tahun.

Fasilitas yang ada berupa pondok kerja, tempat parkir, jalan setapak, papan-papan petunjuk dan MCK.

Wana Wisata ini dapat dicapai dari Kecamatan Cibungbulang (15 km), Ciampea (14 km), Kota Kabupaten Bogor (33 km) dan 60 km dari kota Rangkas Bitung. Kondisi jalan umumnya beraspal dan baik, dapat dilaluibaik kendaraan roda dua maupun roda empat. Sarana tranaportasi umum yang ada berupa kendaraan umum dan dilanjutkan dengan kendaraan carteran/motor ojek dari kota Kecamatan Cibungbulang atau Ciampea colt angkutan kota.

Sumber : www.tourismwestjava.com


Read More »

Pangandaran



Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Pangandaran merupakan hutan sekunder tua yang berumur antara 50 – 60 tahun mendominasi kawasan TWA Pangandaran. Selebihnya adalah sisa-sisa hutan primer yang tidak luas dan terpencar letaknya, serta sedikit hutan pantai.
Pohon-pohon di hutan sekunder tua di dalam kawasan TWA Pangandaran memiliki ketinggian rata-rata antara 25 – 35 m, dengan jenis-jenis yang dominan diantaranya Laban (Vitex pubescens). Ki segel (Dillenia excelsa) dan marong (Cratoxylon formosum), juga terdapat beberapa jenis pohon peninggalan hutan primer seperti Pohpohan (Buchania arborescens), Kondang (Ficus variegata), dan Benda (Disoxyllum caulostachyllum). Pohon-pohon tersebut umumnya ditandai oleh tumbuhnya jenis tumbuhan liana dan epifit.

Hutan pantai hanya terdapat di bagian timur dan barat kawasan. Ditumbuhi pohon formasi Barringtonia, seperti Butun (Barringtonia aseatica), Ketapang (Terminalia catappa), Nyamplung (Callophyllum inophyllum) dan Waru Laut (Hibiscus tiliaceus).

Dengan berbagai ragam floranya, kawasan taman wisata alam Pangandaran merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan satwa-satwa liar. Jenis satwa liar yang dapat dijumpai pada kawasan ini antara lain : Tando ( Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), lutung
(Presbytis cristata), kalong (Pteropus campyrus), Banteng (Bos sondaicus), Rusa (Cervus timorensis), kancil (Tragulus javanica), dan landak (Hystrix javanica).

Sedangkan jenis-jenis burung yang dapat dijumpai antara lain burung Canghegar (gallus varius), Tlungtumpuk (Magalaema javensis), Cipeuw (Aegitina tiphia), Larwo (Copsychus malaharicus) dan jogjog (Pycnonotus plumosus).

Jenis Amphibi yang dapat ditemui diantaranya adalah Katak pohon (Rhacopnorus leucomistak), Katak buduk (Bufo melanostictus), dan Bancet (Rana limnocharis). Sedangkan jenis Reptilia yang dapat ditemui diantaranya adalah Biawak (Dracopolon sp), tokek (Gecko gecko) dan beberapa jenis ular, antara lain Ular pucuk (Dryopsis prasinus).

Potensi Wisata

Selain obyek wisata berupa hutan alam maupun tanaman, daya tarik yang lain adalah pantai pasir putih, goa alam dan peninggalan sejarah serta Batu Kalde. Berikut uraian dari masing-masing obyek wisata alam tersebut.

a. GUA KERAMAT ATAU GUA PARAT
Menurut cerita gua ini dahulunya merupakan untuk bertapa dan bersemedi oleh beberapa Pangeran dari Mesir yaitu Pengeran Kesepuluh (Syech Ahmad), Pangeran Kanoman (Syech Muhammad), Pangeran Maja Agung dan Pangeran Raja Sumenda
Pangeran Maja Agung mempunyai istri empat yang salah satu istrinya bernama Dewi Cimilar Putri Jin, mempunyai seorang Putri bernama Dewi Ranggasmara.

Pangeran Pangeran Batara Sumenda adalah kakak dari Pangeran Maja Agung. Pada suatu hari Pangeran Maja Agung memanggil kedua putranya Pangeran Ahmad dan Pangeran Muhammad untuk memberikan tugas untuk mengislamkan daerah Ciamis Selatan.

Pangeran Maja Agung percaya bahwa kedua anaknya dapat menjalankan tugasnya karena mereka mempunyai kesaktian dari sepuluh jimat yang disebut Konco Kaliman.
Adik tirinya yang bernama Dewi Ranggasmara pernah meracuni kedua kakaknya karena menginginkan jimat, akan tetapi perbuatannya segera diketahui. Sebagai pembalasannya kakaknya hendak memperkosa adiknya tetapi hal itu tidak sempat dilakukan karena sempat diketahui oleh penakawannya.
Pada hari yang telah ditentukan Pangeran Ahmad dan Muhammad pergi untuk menjalankan tugasnya akan tetapi Pangeran Maja Agung tidak mendapat berita tentang putranya. Kemudian mengutus kakaknya Pangeran Raja Sumenda untuk mencarinya.
Pangeran Raja Sumenda pergi sendirian dari Mesir, beliau mendengar suara yang memberitahukan bahwa kedua keponakannya ada dalam sebuah gua.
Setelah ketemu kemudian melapor kepada Raja Maja Agung, tidak lama kemudian beliau menyusul dan bersama-sama bersemedi di gua ini yang sekarang diberi nama Gua Keramat.
Didalam gua ini terdapat dua kuburan yang bukan sebenarnya, hanya sebagai tanda saja bahwa ditempat inilah syech Ahmad dan Muhamad menghilang (tilem).

b. GUA PANGGUNG

Menurut cerita yang berdiam di gua ini adalah Embah Jaga Lautan atau dibesutpula Kiai Pancing Benar. Beliau merupakan anak angkat dari Dewi Loro Kidul dan ibunya menugaskan untuk menjaga lautan di daerah Jawa Barat pada khususnya dan menjaga pantai Indonesia pada umumnya oleh karena itu beliau disebut Embah Jaga Lautan

Sebenarnya Embah Jaga Lautan ini berasal dari Mesir yang ditugaskan untuk menyiarkan agama Islam. Beliau mempunyai isteri 7 orang yang setiap malam beliau bergiliran menengok salah satu ketujuh isterinya. Ketujuh isterinya itu selalu bertengkar satu sama lain. Pada satu hari isterinya yang ketujuh tidak sempat ditengok karena beliau pergi memancing. Pancing yang digunakann tidak berbentuk melingkar akan tetapi lurus dan ikan yang didapatnya disebut ikan Topel karena ikan tersebut menempel pada pancingnya. Setelah beliau mempunyai ikan Topel tersebut ketujuh isterinya kemudian rukun bersama, maka oleh karena itu beliau disebut juga Kiai Pancing Benar dan sampai sekarang masih banyak orang yang menangkap ikan tersebut karena masih percaya akan khasiatnya.
Disebut Panggung karena didalam gua ini terdapat tempat seperti panggung yang dipakai untuk sembahyang para wali atau orang-orang yang akan naik haji ke Mekkah.

c. GUA LANANG
Menurut cerita gua ini dulunya merupakan Keraton yang pertama Kerajaan Galuh, sedangkan Keraton yang kedua terdapat di Karang Kamuyaan Ciamis. Raja Galuh ini laki-laki (Lanang) yang sedang berkelana.

d. BATU KALDE ATAU SAPI GUMARANG
Ditempat ini menurut cerita tinggal seorang sakti yang dapat menjelma menjadi seekor sapi yang gagah berani dan sakti.
Sapi Gumarang adalah nakhoda kapal, pada suatu hari Sapi Gumarang ini diutus untuk membeli padi kedaerah Galuh, akan tetapi tidak berhasil sebab Raja Galuh tidak mengijinkan berhubungan persediaan padi untuk daerah itu sendiri belum mencukupi.

Nakhoda kapal sangat marah mendengar hal itu kemudian dia mengutus Sapi Gumarang untuk merusak seluruh Galuh dan sekitarnya. Sapi Gumarang dapat menjalankan tugasnya dengan baik terbukti seluruh padi baik yang berada di lumbung dan disawah terkena hama. Raja Galuh sangat terkejut dengan keadaan ini dan beliau yakinhal ini pasti dilakukan oleh utusan Nakhoda, kemudian beliau menyusun putra angkatnya Sulanjana untuk mencari Sapi Gumarang dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dan akan membantu Kerajaan Galuh apabila terserang hama.

e. RENGGANIS
Cerita ini berawal dengan adanya sebuah pemandian berupa sungai kepunyaan seorang Raja bernama Raja Mantri. Pada suatu hari Raja Mantri pergi melihat-lihat pemandiannya, kebetulan waktu itu Dewi Rengganis dan para Inangnya sedang mandi.

Dewi Rengganis adalah putri dari kayangan, karena terdorong oleh perasaan hatinya kemudian Raja Matri mengambil pakaian Dewi Rengganis. Alangkah terkejutnya sang Dewi karena pakaiannya sudah tidak ada pada tempatnya, Inangnya disuruh untuk mencarinya akan tetapi tidak berhasil. Karena kesalnya Dewi Rengganis kemudian berkata barang siapa menemukan bajunya maka akan dijadikan saudara bila perempuan dan bila laki-laki akan dijadikan suami.

Semua perkataan Dewi terdengan oleh Raden Mantri kemudian dia keluar dari persembunyiannya. Untuk menepati janji, Dewi Rengganis bersedia menjadi istri Raden Raja Mantri.

Setelah menikah kemudian pemandian ini diserahkan kepada Dewi Rengganis. Sejak itu pemandian itu dinamakan Cirengganis dan sampai sekarang banyak orang yang masih percaya akan khasiat apabila mandi disana.

Fasilitas

Sarana dan prasarana yang telah tersedia di TWA Pangandaran antara lain berupa pintu gerbang, loket karcis, ruang informasi, shelter, jalan setapak, tempat parkir dan pos jaga.



Sumber : www.tourismwestjava.com

Read More »

Mandalawangi Cibodas



WW Mandalawangi dengan luas 39,5 ha statusnya merupakan hutan produksi yang dikembangkan sebagai Bumi Perkemahan. Lokasinya sangat strategis dimana merupakan daerah tujuan wisata Cipanas – Puncak Bogor, termasuk wilayah pengelolaan hutan RPH Pacet, BKPH Gede Tikur KPH Cianjur, dan secara administratif pemerintahan termasuk Desa Rarahan Kecamatan Pacet Kabupaten cianjur.

Wana wisata ini terletak pada ketinggian 1100 m dpl. Konfigurasi lapangan umumnya bergelombang dan berbukit. Curah hujan 3500 – 4500 mm/tahun dengan suhu udara rata-rata 18 – 200 C.


Pemandangan hutan pinus dan hutan alam dengan keanekaragaman jenis yang cukup tinggi diantaranya pohon Puspa, Rasamala, Nangka, Damar, Saninten, Jamuju, Baros, Huju, Pasang, Syfrus, Suren, Kaliandra, Filisium, Kondang, Salam, Mahoni, Cemara, Kurai, Sengon, Flamboyan, Pulus, Eucalypus, Kihaji, Riung anak, Bungur, Angsana, Beringin, Aksia, Rumput pahit, Jampang pahit, Sulanjana, Alang-alang, Putri malu, Antanan, Totoropongan, Takokak, Kaso, Kecubung, Tepus, Sembung gunung, Kiurat, Lemmo, Kingkilaban, Lakotmala, Paku andom, Kadaka, Rotan, Konyal.

Fauna yang terdapat di wana wisata ini antara lainburung pipit, kutilang, tekukur, jogjog, sesap madu, burung hantu, kepodamng, bangau, alap-alap dan kalajengking, berang-berang, anjing huhtan, kucing hutan, tupai, menjangan, kelelawar, kera ekor panjang, macan tutul, babi hutan dan trenggiling.

Kawasan wana wisata Mandalawangi sebagai wisata harian dan wisata untuk berkemah khususnya para pelajar.

Aksebilitas
Dapat dicapai dengan kendaraan roda 4 dan roda 6 dengan jarak tempuh 25 km dari Cianjur, 85 km dari Bandung dan sekitar 95 km dari Jakarta dengan kondisi jalan beraspal.

Sumber : www.tourismwestjava.com

Read More »

Situ Gunung



Taman Wisata Alam Situgunung yang mempunyai luas 100 ha adalah merupakan kawasan pelestarian alam bagian dari zona pemanfaatan intensif Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

TWA Situgunung terletak di kaki Gunung Pangraga pada ketinggian 950 – 1.036 meter dari permukaan laut. Keadaan tofografinya sebagian kecil datar, bergelombang sampai berbukit.

Secara astronomis kawasan TWA Situgunung terletak antara 106 54’37” – 106 55’30” Bujur Timur 06 39’40” – 06 41’12” Lintang Selatan.



Menurut Schmidt dan Perguson TWA Situgunung mempunyai tipe iklim B. Curah hujan rata-rata 1.611 – 4.311 mm per tahun dengan 106-187 hari hujan per tahun. Suhu udara berkisar antara 160 C – 280 C dan kelembaban rata-rata 84 persen.

Selain memiliki keindahan pemandangan hutan alam dan hutan tanaman, Situgunung memiliki obyek wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi yaitu :

1. Telaga Situgunung : Sebuah telaga buatan seluas 10 ha dengan panorama yang indah dikelilingi bukit dan tegakan pohon damar.
2. Air terjun : Air terjun Cimanaracun dan Curug Sawer salah satu keindahan alam yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya.


Sesuai dengan potensi yang dimiliki TWA Situgunung, maka wisatawan dapat melakukan kegiatan berupa :

1. Wisata Alam : berupa rekreasi di alam terbuka sambil menikmati keindahan, keunikan, kesejukan, gejala dan panorama alam lainnya. Kegiatan lainnya yang dapat dilakukan adalah memancing, mendaki gunung (hiking), lintas alam, foto hunting, bersampan dan lain-lain.
2. Wisata Konvensi : kegiatan yang dapat dilakukan adalah konvensi, lokakarya, workshop, rapt yang dilakukan dilingkungan alam terbuka sambil berwisata.
3. Wisata pendidikan : berupa rekreasi di alam terbuka sambil belajar tentang alam dan lingkungan hidup sekitarnya. Sehingga dapat menanamkan rasa memiliki dan menyayangi alam.


Fasilitas

Berbagai sarana untuk memberikan kenyamanan dan kepuasan wisatawan uyang berkunjung di TWA Situgunung diantaranya telah tersedia :
Pesanggrahan : Tersedianya 4 (empat) buah pesanggrahan dan sebuah gedung serbaguna yang dapat menampung lebih dari 200 orang
Bumi Perkemahan : Areal perkemahan seluas 5 hektar di bawah tegakan hutan damar memiliki fasilitas berkemah yang cukup lengkap.
Pusat informasi dan pelayanan : Sarana ini dimaksudkan sebagai tempat memberikan penerangan dan informasi tentang kawasan serta peraturan-peraturan lainnya.
Jalan setapak : Jalan setapak dibuat dengan maksud untuk memperlancar dan sekaligus memberi petunjuk bagi wisatawan tentang potensi-potensi yang ada dalam kawasan, karena jalan setapak ini dibuat sebagai penghubung tempat-tempat yang mempunyai potensi dan atraksi wisata.
Kafetaria : menyediakan dan melayani kebutuhan makanan dan minuman bagi wisatawan.
Kios cendramata : Sarana ini diperuntukan guna memenuhi kebutuhan wisatawan akan kenang-kenangan atau tanda mata.
Shelter/Kopel : Bangunan ini dapat dipakai sebagai tempat bersantai sambil menikmati pemandangan alam.
Fasilitas lainnya : Fasilitas-fasilitas lainnya yaitu berupa tempat parkir, musholla, MCK, dermaga, taman bermain dan teater alam.

Aksebilitas

Lokasi TWA Situgunung dapat dicapai dengan mudah. Sarana yang tersedia untuk menuju lokasi dapat dilakukan dengan angkutan umum atau ojeg motor yang ada di Kecamatan Cisaat. Jarak dari kota Sukabumi dengan TWA Situgunung 15 km dengan waktu tempuh yang diperlukan sekitar 30 menit.

Bila ditempuh dari Jakarta melalui jalan tol, jaraknya 100 km, membutuhkan waktu 1,5 jam, sedangkan bila dari Bandung jaraknya 106 km dapat ditempuh dalam waktu 2 jam.

Sumber : www.tourismwestjava.com

Read More »

Kawah Putih



Luas 25 ha, RPH Patuha, BKPH Ciwidey, KPH Bandung Selatan, Desa Alam Endah, Kecam,atan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung.

Tempat ini terletak pada ketinggian 2434 m dpl, konfigurasi lapangan umumnya landai sampai berbukit. Suhu udara sekitar 8 – 22 0 C. sumber air yang ada tergantung musim hujan. Kelembaban 90%, sedangkan curah hujan tahunan tercatat antara 3743 – 4043 mm/tahun.

Potensi Wilayah

Wana wisata ini merupakan wisata harian yang memiliki pemandangan alam berupa hutan alam dan kawah gunung berapi. Wisata harian yang dapat dilakukan adalah lintas alam dan mendaki gununng.

Tumbuhan yang terdapat pada wana wisata ini yaitu : alang – alang, saliara, kingkilaban, kirinyuh, puspa, kayu putih, cemara dan rasamala.

Binatang yang terdapat di wana wisata ini yaitu : sanca, burung hantu, surili, harimau, serigala.

Potensi Wisata

Gunung Patuha oleh masyarakat Ciwidey dianggap sebagai gunung yang tertua. Namun Patuha konon berasal dari kota Pak Tua (sepuh), sehingga masyarakat setempat seringkali menyebutnya dengannama Gunung Sepuh. Lebioh dari seabad yang lalu, puncak Gunung Patuha dianggap anker oleh masyarakat setempat sehingga tak seorangpun berani menginjaknya. Oleh karena itu, keberadaan dan keindahannya pada saat tersebut tidak sempat diketahui orang.

Atas dasar beberapa keterangan, Gunung Patuha pernah meletus pada abad X sehingga menyebabkan adanya Kawah (crater) yang mengeringkan di sebelah puncak bagian barat. Kemudian pada abad XII kawah di sebelah kirinya meletus pula, yang kemudian membentuk danau yang indah.

Tahun 1837, seorang Belanda peranakan Jerman bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) mengadakan perjalanan ke daerah Bandung Selatan. Ketika sampai di kawasan tersebut, Junghuhn merasakan suasana yang sangat sunyi dan sepi, tak seekor binatangpun yang melintasi daerah itu. Ia kemudian menanyakan masalah ini kepada masyarakat setempat, dan menurut masyarakat; kawasan Gunung Patuha sangat angker karena merupakan tempat bersemayamnya arwah para leluhur serta merupakan pusat kerajaan bangsa jin. Karenanya bila ada burung yang lancang berani terbang di atas kawasan tersebut, akan jatuh dan mati. Meskipun demikian, orang Belanda yang satu ini tidak begitu percaya akan ucapan masyarakat. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya menembus hutan belantara di gunung itu untuk membuktikan kejadian apa yang sebenarnya terjadi di kawasan tersebut. Namun sebelum sampai di puncak gunung, Junghuhn tertegun menyaksikan pesona alam yang begitu indah di hadapannya, dimana terhampar sebuah danau yang cukup luas dengan air berwarna putih kehijauan. Dari dalam danau itu keluar semburan lava serta bau belerang yang menusuk hidung. Dan terjawablah sudah mengapa burung-burung tidak mau terbang melintasi kawasan tersebut.

Dari sinilah awal mula berdirinya pabrik belerang Kawah Putih dengan sebutan di jaman Belanda : Zwavel Ontgining Kawah Putih. Di jaman Jepang, usaha pabrik ini dilanjutkan dengan menggunakan sebutan Kawah Putih kenzanka Yokoya Ciwidey, dan langsung berada di bawah pengawasan militer.

Cerita dan misteri tentang Kawah Putih terus berkembang dari satu generasi masyarakat ke generasi masyarakat berikutnya. Hingga kini mereka masih percaya bahwa Kawah Putih merupakan tempat berkumpulnya roh para leluhur. Bahkan menurut kuncen Abah Karna yang sekarang berumur ± 105 tahun dan bertempat tinggal di Kampung Pasir Hoe, Desa Sugih Mukti; di Kawah putih terdapat makam para leluhur, diantaranya : Eyang Jaga Satru, Eyang Rangsa Sadana, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom dan Eyang Jambrong. Salah satu puncak Gunung Patuha, Puncak Kapuk, dipercaya sebagai tempat rapat para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Di tempat ini masyarakat sesekali melihat (secara gaib) sekumpulan domba berbulu putih (domba lukutan) yang dipercaya sebagai penjelmaan dari para leluhur.

Alam pemandangan di sekitar Kawah Putih cukup indah; dengan air danau berwarna putih kehijauan, sangat kontras dengan batu kapur putih yang mengitari danau tersebut. Di sebelah utara danau berdiri tegak tebing batu kapur berwarna kelabu yang ditumbuhi lumut dan berbagai tumbuhan lainnya.

Franz Wilhem Junghuhn kini sudah lama tiada, namun penemunya yang dikenal dengan nama Kawah Putih masih tetap anggun mempesona sampai saat ini.

Perum Perhutani mengembangkan WW Kawah Putih sejak 1991.

Fasilitas

Fasilitas yang terdapat di WW Kawah Putih diantaranya Musholla, MCK, bangunan pusat informasi, areal mini zoo, tempat bermain anak-anak, kios dagang.

Aksebilitas

Keadaan jalan pada umumnya baik dan beraspal sehingga dapat dicapai dengan kendaraan dua maupun roda empat. Jarak tempuh dari Bandung 47 km.

Sumber : www.tourismwestjava.com

Read More »

Curug Nangka

Wana Wisata ini terletak pada ketinggian 750 m dpl., konfigurasi lapangan umumnya datar sampai bergelombang. Kawasan ini mempunyai curah hujan 4000 mm/tahun dengan suhu udara 20 – 220 C.

Wana wisata ini terdiri dari 5 ha hutan tanaman (Agathis, Rasamala dan Pinus).
Potensi visual lansekap menuju lokasi cukup menarik dengan pemandangan alam berupa
pemandangan hutan alam dan hutan tanaman pinus, dan air terjun.

Fasilitas yang sudah tersedia dalam wana wisata ini adalah berupa pos jaga, pondok kerja, loket karcis (belum berfungsi), jalan setapak, tempat parkir, MCK, shelter (gardu pandang), tempat duduk, ruang informasi dan tempat sampah.

Wana wisata ini dapat dicapai dari Bogor (26 km) kondisi jalan umumnya baik (beraspal), dapat dilalui kendaraan roda empat. Sarana transportasi umum yang ada adalah angkutan kota dari terminal Ramayana Bogor.

Sumber : www.tourismwestjava.com




Read More »

Curug Cilember

Wana wisata ini terdiri dari 2 ha hutan tanaman (Agathis, Rasamala dan Pinus), potensi visual lansekap menuju lokasi cukup menarik dengan pemandangan alam berupa pegunungan & perkebunan, sedangkan bentang alam/potensi visual lansekap di dalam kawasan yang mempunyai karakteristik khas adalah tegakan tanaman hutan dan panorama kota Bogor.

Wana wisata ini digunakan untuk wisata berkemah. Untuk kegioatan berkemah ini tersedia dua kompleks perkemahan.


Curug Cilember memiliki tujuh buah air terjun, dengan jeram tertinggi 30 meter. Namun Curug (air terjun) yang paling banyak dikunjungi adalah curug yang keempat. Curug keempat ini diyakini berkhasiat sebagai obat awet muda, mempercepat dapat jodoh serta dapat menyembuhkan penyakit.



Tepat di atas lokasi curug 7 tedapat sebuah makam keramat yang setiap harinya sering dikuknjungi oleh masyarakat, untuk berziarah, dan mencari berkah. Menurut sejarah makam ini bernama makam Embah Jaya Sakti yang masih memiliki garis keturunan Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran. Berdasarkan keterangan Bapak Mahdi yang dipercaya sebagai juru kunci embah Jaya Sakti juga masih memiliki hubungan darah dengan Tubagus Arifin yang berada di Kiaralawang bogor (Kebun Raya Bogor). Biasanya penziarah mencapai puncaknya pada setiap bulan Rabiul awal.

Konon Curug Cilember juga merupakan tempat mandi para putri dari kayangan. Bahkan bebnerapa penduduk diantaranya Enus (70 th) orang pertama yang tinggal di sekitar curug Cilember, pernah melihat sekitar 7 putri cantik yang sedang mandi dan bercengkraman di curug keempat.

Fasilitas yang sudah tersedia dalam wana wisata ini adalah berupa pos jaga, pondok kerja, loket karcis, jalan setapak, tempat parkir, MCK, shelter (gardu pandang), tempat duduk, ruang informasi dan tempat sampah.

Wana wisata ini dapat dicapai dari Bogor 10 km. Kondisi jalan umumnya baik(beraspal), dapat dilalui kendaraan roda empat. Sarana transportasi umum yang ada adalah angkutan ojek dari jalan jurusan Bogor – Puncak.

Sumber : www.tourismwestjava.com


Read More »